Sabtu, 19 Februari 2011

Association of Muslim Collager : "Islam never rein in women"

Mahasiswa Muslim AS Luruskan Anggapan Islam Penjarakan Wanita
Mahasiswi muslim di Universitas Central Florida


ORLANDO - Sebagai bagian dari Bulan Kesadaran Islam, Asosiasi Mahasiswa Muslim (MSA) menggelar acara "Wanita dalam Islam" pada Selasa 915/2) lalu di Universitas Central Florida.

"Acara ini memang sudah menjadi tradisi MSA, namun tahun ini dengan banyak peristiwa terjadi dan pemberitaan media di luar proporsi lebih dari sebelumnya, kami berpikir sangat perlu untuk menyelenggarakan lagi," ujar wakil presiden MSA, Shazeen Ahmad, yang juga mahasiswa psikologi di kampus tersebut.

"Selama beberapa lama kami berpikir untuk menggantikan acara ini dengan sesuatu yang baru karena khawatir hanya mengulang-ulang tema yang sama, namun pandangan wanita dalam keyakinan Islam dalah salah satu hal yang mengundang salah pemahaman terbesar," ujar Ahmad. "Karena itu kami ingin menjernihkan kesalahpahaman yang melanda publik," ujarnya.
Ada dua misi utama MSA. "Kami ingin membantu memberikan layanan terhadap Muslim di Kampus dan juga menjangkau kawan-kawan non-Muslim untuk membantu mereka memahami Islam dan menjernihkan selip pemahaman yang ada," ujar presiden MSA dan produser film, Abdullah Sabawi.

Dalam acara tersebut ada pula seminar yang diberikan seorang tokoh wanita Islam terkemuka setempat, Najia Kurdi. Ia membagi pengalamannya seputar konflik dalam hidup juga sikap salah paham yang ia terima di masyarakat

Islam Lebih Menghormati Hak Wanita

"Media kerap menyuarakan bagaimana membebaskan para wanita dari hijab, namun kita jarang mendengar dari sisi yang lain. Ada pula wanita-wanita yang berjuang untuk mengenakan jilbab. Itu adalah kehormatan mereka. Orang-orang bahkan ada yang mati demi memperoleh hak untuk menggunakan itu," ujarnya

Kurdi mengaku dibesarkan dalam keluarga yang memegang nilai-nilai Islam. Ia memaparkan bagaimana orang tuanya telah mengajarkannya untuk menghargai diri sendiri, juga opini, keyakinan dan menghormati orang lain dan juga keyakinan mereka.

"Saya pikir selalu ada keinginan di setiap orang untuk dipahami meski anda setuju atau tidak dengan pilihan mereka. Ada begitu banyak yang tidak dipahami tentang Islam," ujar Kurdi. "Akhir-akhir ini begitu banyak propaganda dan pandangan negatif yang melukai orang. Ini adalah sebuah kesempatan untuk menjembatani celah. Jika saya dapat melakukan sesuatu untuk membuat orang memahami saya, apakah mereka setuju atau tidak dengan pilihan saya, saya pikir itulah yang harus dilakukan. Kita semua hidup di bumi dan dunia yang sama."

Ia menyadari ada orang yang memandang Muslim bersifat gender. Namun ia juga menekankan Al Qur'an menyatakan bahwa wanita dan pria dilihat sederajat sebagai makhluk dalam ketakwaan.

Wanita Muslim, ujarnya, telah memiliki hak untuk memilih dimulai 1.400 tahun lalu. Pada waktu yang sama, imbuhnya, tak ada budaya lain yang menghargai wanita seperti Islam menghargai wanita.

Wanita dapat memutuskan bercerai, berhak atas kepemilikan properti, menjadi seorang pengusaha, menuntut ilmu, atau berkiprah dalam bidang hukum. Bahkan pernikahan pun harus atas persetujuan wanita yang akan dinikahi, juga penentuan mahar yang pada hanya menjadi milik wanita itu seorang.

Namun, ada era dimana wanita dijadikan objek. Disaat itulah, kata Kurdi, wanita mulai diperdagangkan dan menjadi sosok yang ditekan dan ditindas dari satu orang ke orang lain.

"Kini wanita bisa memperjuangkan hak-hak mereka. Namun mereka ditundukkan dan dihakimi hanya dari penampilan mereka bukan karena nilai diri mereka yang sesungguhnya," ujar Kurdi. "Islam mengatakan perempuan wajib dihormati karena kodrat mereka, bukan karena tampilan mereka,"tegasnya.

"Ya anda beharga karena anda cerdas, berbudi dan orang baik. Dan, ya karena kita pun cantik pula, namun kecantikan kita untuk dijaga dan dilindungi. Kita tidak akan menggunakan kecantikan itu untuk merendahkan posisi kita demi keinginan pria.

Kurdi mengakhiri ceramahnya dengan sebuah analogi yang mengumpamakan Islam sebagai gambar puzle. "Anda mungkin tidak menyadarinya di awal, namun begitu anda mulai membentuk dan mengombinasikan warna-warna yang serupa, anda sebenarnya mulai menyusun semua bagian-bagian. Setelah itu anda mampu menyaksikan sesuatu yang indah. Semua potongan-potongan itu mulai membentuk imaji utuh dan begitu anda selesai menyusun seluruh keping, anda baru bisa membuat kesimpulan berpendidikan tentang Islam dan juga Muslimahnya," ujarnya.

(Sumber : Republika)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar