Minggu, 06 Februari 2011

US worried about improvement of Muslim In England (Wikileaks Statement)

Cemas Peningkatan Muslim di Inggris, AS Luncurkan De-ekstremisasi

Populasi Muslim di Inggris meningkat pesat. Diperkirakan pada 2030 mendatang populasinya mencapai 5,5 juta orang
 
LONDON--AS rupanya telah mencium adanya perkembangan signifikan populasi komunitas Muslim Inggris setiap tahunnya. AS khawatir meningkatnya populasi Muslim menaikan pula resiko radikalisasi di Eropa.

Inggris adalah negara Eropa yang memiliki populasi Muslim terbanyak. Karena itu, AS kemudian gerak cepat dengan melancarkan kampanye anti ekstrimis di seantero Inggris Raya. Demikian bunyi bocoran teranyar Wikileas yang dirilis baru-baru ini.

Menurut bocoran Wikileaks, kampanye yang menghabiskan puluhan ribu dollar AS itu berawal dari pemberian informasi MIG, dinas intelejen kerajaan Inggris kepada AS. Informasi itu menyebutkan Inggris tengah berjuang menghadapi ancaman ekstrimis dalam negeri.

Dari informasi itulah, Washington yang panik segera melakukan tindakan sebelum efeknya merembet ke AS. Kecemasan itu terbukti dengan adanya laporan dari kedutaan AS di London yang mengatakan pejabat AS tengah menjalani kunjungan pribadi ke Masjid Finsbury Park, Utara London, yang dahulu merupakan rumah dari Imam Abu Hamzah Al-Masri.

Pada tahun 2007, Washington dilaporkan terlibat dalam kebijakan "pembenihan" proyek-proyek anti-ekstremisme di seluruh dunia . Inggris kemudian menjadi salah satu tujuan dari kebijakan "pembenihan" AS.

Sebagai langkah awal, Washington mengirimkan rombongan Muslim moderat dari AS untuk berbicara dan berdiskusi. Washington juga menyiapkan film anti Jihad dengan menyewa aktor Bollywood.

Dell Dailey, perwakilan Washington khusus penanganan anti terorisme sempat menawarkan duta besar AS di London untuk membelanjakan skema anti ekstrimisme di Inggris.

April 2008, Wakil Dutaan Besar AS di London, Richard LeBaron, merespon tawaran Dell dengan bersedia menerima bantuan dana untuk mencegah pemuda Inggris menjadi pengikut Jihad. Langkah awal yang kemudian dilakukan LeBron adalah menyewa seorang akademisi AS dengan biaya $43.000 untuk menjalankan de-ekstrimisme.

Akademisi itu bertugas untuk memberikan informasi secara detail sehingga pemuda Inggris tidak lagi menilik istilah jihad dan esktrimis. Langkah kedua, LeBron mengundang komedian Muslim AS "Allah Made Me Funny" untuk berpartisipasi dalam festival Ramadhan di Inggris.

 Total $39.000 dihabiskan LeBron untuk langkah kedua. "Hasil yang kami harapkan adalah pesan tersebut sampai pada kaum muda," lapor LeBaron kepada Washington.

Dari bocoran lainnya, penasihat senior Departemen Luar Negeri AS Khusus Masalah Muslim, Farah Pandith, mengatakan komunitas Muslim Inggris memang telah terisolasi namun hal itu malah membuat populasi mereka bertambah 11 persen.

 "Di sebuah toko buku lokal, teks dalam bahasa Inggris tampaknya dirancang untuk memisahkan kaum Muslim dari komunitas yang lebih luas, mendesak perempuan untuk menutupi diri mereka dan tetap di rumah mereka, bermain berdasarkan agama,  berusaha untuk mengisolasi umat Islam dari masyarakat, dan menerapkan kebencian kaum muda kapada orang Yahudi," papar Pandith.

Bocoran lainnya juga mengungkap kampanye anti-ekstremisme Inggris diikuti dengan pemberian dana kepada televisi anak-anak bahasa Arab di Yordania untuk mempromosikan perdamaian dan toleransi. Proyek itu mendorong pertemuan antara Uskup Agung Canterbury dan pemimpin agama dan wartawan dari komunitas Muslim Inggris, dan memberikan pelatihan bahasa Inggris tutor di Al-Azhar University di Kairo melalui British Council.
 (Sumber : Republika)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar